Setelah MPASI dimulai, pertanyaan berikutnya biasanya soal jadwal makan bayi 6 bulan: “Jam berapa si Kecil harus makan? Kapan menyusunya? Snack-nya kapan?”
Jadwal makan yang teratur ternyata punya peran besar, Bunda. Bukan cuma supaya rapi, tapi juga supaya bayi lebih siap menerima makanan dan risiko GTM berkurang. Berikut contoh jadwal makan bayi 6 bulan yang direkomendasikan IDAI dan cara menerapkannya di rumah.
Kenapa Jadwal Makan Itu Penting?
Di usia sekitar 6 bulan, pola tidur bayi mulai berubah. Beberapa bayi yang tadinya tidur siang 3-4 kali mulai beralih menjadi 2 kali. Kebanyakan bayi di usia ini butuh 12-15 jam tidur sehari, dengan tidur siang sekitar 1-3 jam.
Perubahan ini jadi momen yang pas untuk mulai membentuk pola makan. Kalau jam makannya sama setiap hari:
Tubuh si Kecil lebih “siap” dan lapar di jam makan.
Bunda lebih mudah merencanakan masak dan menyimpan MPASI.
Risiko GTM berkurang karena si Kecil tidak terus-terusan kenyang camilan atau susu.
Contoh Jadwal Makan Bayi Rekomendasi IDAI
Jam
Kegiatan
06.00
ASI
08.00
Makan pagi
10.00
Makanan selingan (camilan)
12.00
Makan siang
14.00
ASI
16.00
Makanan selingan (camilan)
18.00
Makan malam
21.00
ASI
02.00
ASI (bila perlu)
Di antara jam-jam di atas, ASI tetap boleh diberikan, baik pagi, siang, sore, malam saat akan tidur, maupun saat si Kecil sedang tidur.
Jadwal untuk usia 6-8 bulan, 9-11 bulan, dan 12-24 bulan sebenarnya relatif sama. Yang membedakan hanya jumlah makanan dan teksturnya.
Untuk Bayi yang Baru Mulai MPASI
Di usia 6-8 bulan, frekuensi MPASI yang dianjurkan adalah 2-3 kali sehari. Jadi di minggu-minggu awal, Bunda tidak harus langsung mengisi semua jam makan di tabel.
Cara yang bisa dicoba:
Minggu awal: pilih 2 jam makan utama, misalnya 08.00 dan 12.00 atau 08.00 dan 18.00.
Setelah si Kecil terbiasa: tambahkan jadi 3 kali makan utama.
Camilan: mulai dikenalkan di sela jam makan, misalnya puree buah. Ide camilannya ada di camilan MPASI.
Porsi di awal masih kecil, mulai dari 2-3 sendok makan. Takarannya ada di artikel porsi MPASI 6 bulan.
Salah satu tips yang cukup manjur adalah mengkondisikan bayi untuk lapar. Contohnya:
Tawarkan makan setelah si Kecil bangun dari tidur yang cukup lama. Biasanya ia lapar di momen ini.
Beri jeda yang cukup antara menyusu atau camilan dengan jam makan utama.
Jangan tawarkan camilan saat jam makan utama, kecuali minum.
Hindari memberi makan menjelang tidur, karena bayi yang mengantuk cenderung menolak dan lebih rewel.
Kombinasikan jadwal ini dengan feeding rules: waktu makan maksimal 30 menit, tanpa distraksi, dan tanpa paksaan. Pembahasannya ada di feeding rules MPASI.
Jadwal Itu Fleksibel, yang Penting Konsisten
Jadwal IDAI di atas bersifat fleksibel, Bunda. Kalau di rumah si Kecil biasa bangun jam 07.00, jam-jam berikutnya bisa digeser menyesuaikan.
Yang terpenting adalah jamnya diusahakan sama setiap hari. Dengan begitu bayi lebih siap menerima makanan, dan risiko GTM pun berkurang. Kalau GTM tetap terjadi, langkah-langkahnya ada di cara mengatasi GTM.
Contoh Penyesuaian untuk Ibu Bekerja
Kalau Bunda bekerja dan si Kecil diasuh orang lain di siang hari, jadwal tetap bisa jalan:
Masak sekali untuk 3 porsi, lalu bagi ke tiga wadah: pagi, siang, malam.
Beri tahu pengasuh jam makan dan cara menghangatkannya.
Siapkan camilan untuk jeda antar waktu makan.
Tips lengkapnya ada di MPASI untuk ibu bekerja.
Jadwal Rapi, Tapi Masih Ragu Soal yang Lain?
Jadwal hanyalah satu bagian dari MPASI yang lancar. Masih ada porsi, tekstur, cara menyimpan, dan feeding rules yang saling berkaitan.
Semua itu dirangkum di kelas MPASI Basic dari Papatalks dalam 7 materi video singkat: waktu MPASI, pantau pertumbuhan, menyimpan MPASI, porsi makan, naik tekstur, mengatasi GTM, dan feeding rules. Di halaman kelasnya juga tercantum bonus materi seperti printable Weekly Meal Planner.
Hari pertama MPASI biasanya jadi hari yang paling bikin deg-degan. Bubur sudah siap, sendok sudah di tangan, lalu muncul pertanyaan yang sama di kepala hampir semua Bunda: porsi MPASI 6 bulan segini cukup nggak ya?
Wajar kok, Bunda. Banyak ibu baru bingung menentukan porsi MPASI 6 bulan. Takut terlalu sedikit sampai berat badan si Kecil seret, tapi juga takut terlalu banyak sampai ia tersedak atau malah trauma makan.
Kabar baiknya, porsi MPASI sudah ada patokannya dari WHO dan IDAI. Di artikel ini kita bahas pelan-pelan: berapa sendok di hari pertama, kapan porsinya dinaikkan, seperti apa jadwal makannya, dan apa yang harus Bunda lakukan kalau makanannya tidak habis.
Sebelum masuk ke angka, ada satu hal yang perlu Bunda pahami dulu supaya tidak panik: di usia 6 bulan, sebagian besar kebutuhan energi si Kecil masih dipenuhi oleh ASI.
Jadi di awal MPASI, energi yang perlu dipenuhi dari makanan hanya sekitar 200 kkal per hari. Angka ini naik menjadi sekitar 300 kkal di usia 9-11 bulan, lalu 550 kkal di usia 12-24 bulan.
Artinya, tidak perlu khawatir kalau si Kecil baru makan sedikit. Ini normal karena ia memang baru belajar makan. Kemampuan mengunyah dan menelannya juga masih berkembang.
Berikut panduan porsi untuk anak usia 6-8 bulan yang bisa Bunda jadikan acuan:
Hari Pertama: Mulai dari 2-3 Sendok Makan
Mulailah dengan 2-3 sendok makan MPASI setiap kali makan. Ya, hanya segitu. Di tahap ini tujuannya bukan membuat si Kecil kenyang, tapi mengenalkan rasa dan tekstur makanan untuk pertama kalinya.
Berikan dengan tekstur puree yang dihaluskan dan disaring, yaitu bubur kental yang lembut dan mudah ditelan.
Minggu Berikutnya: Naik Perlahan Sampai ½ Mangkok
Setelah si Kecil mulai terbiasa, tambahkan porsinya sedikit demi sedikit sampai setengah mangkok ukuran 250 ml (sekitar 125 ml) setiap kali makan.
Tidak ada aturan harus naik berapa sendok per hari. Ikuti saja kemauan dan kesiapan si Kecil. Kalau hari ini ia antusias, porsinya bisa sedikit ditambah. Kalau besok ia hanya mau sedikit, tidak apa-apa.
Frekuensi: 2-3 Kali Sehari
Di usia 6-8 bulan, MPASI diberikan 2-3 kali sehari. Di antara jam makan, ASI tetap diberikan seperti biasa.
Usia 7-8 Bulan: Teksturnya Mulai Naik
Porsi di usia 7-8 bulan masih di kisaran yang sama, tapi teksturnya mulai naik. Dari puree ke mashed (dilumatkan hingga halus) di usia 7 bulan, lalu ke minced (cincang halus) di usia 8 bulan. Di usia ini gigi depan biasanya mulai tumbuh dan si Kecil mulai belajar mengunyah.
Tabel Porsi MPASI Sesuai Umur
Supaya lebih mudah diingat, ini ringkasan porsi MPASI dari usia 6 sampai 24 bulan (mangkok ukuran 250 ml):
Usia
Porsi sekali makan
Frekuensi
Tekstur
Energi dari MPASI
6-8 bulan
Mulai 2-3 sdm, naik bertahap sampai ½ mangkok
2-3x sehari
Puree saring, lalu lumat
±200 kkal/hari
9-11 bulan
½ mangkok
3-4x sehari + camilan 1-2x
Cincang halus atau kasar, finger food
±300 kkal/hari
12-24 bulan
¾ sampai 1 mangkok
3-4x sehari + camilan 1-2x
Makanan keluarga
±550 kkal/hari
Sumber: panduan WHO dan IDAI, Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi.
Ingat ya Bunda, angka di atas adalah patokan, bukan target yang harus dicapai setiap kali makan. Kebutuhan tiap anak bisa berbeda tergantung usia, berat badan, jenis kelamin, dan aktivitasnya.
Contoh Jadwal Makan Bayi 6 Bulan
Porsi yang pas akan lebih mudah tercapai kalau jadwal makannya teratur. Berikut contoh jadwal makan yang direkomendasikan IDAI:
Jam
Kegiatan
06.00
ASI
08.00
Makan pagi
10.00
Makanan selingan
12.00
Makan siang
14.00
ASI
16.00
Makanan selingan
18.00
Makan malam
21.00
ASI
02.00
ASI (bila perlu)
Untuk bayi yang baru mulai MPASI 2-3 kali sehari, Bunda bisa memilih 2-3 jam makan utama dulu dari jadwal di atas. Jadwal ini fleksibel, bisa disesuaikan dengan kondisi di rumah. Yang terpenting, usahakan jamnya sama setiap hari. Bayi jadi lebih siap menerima makanan, dan risiko GTM pun berkurang. Cara menerapkannya di rumah ada di artikel jadwal makan bayi 6 bulan.
Satu tips yang cukup manjur: tawarkan makanan saat si Kecil lapar, misalnya setelah bangun dari tidur yang lama.
Porsi yang sudah sesuai belum tentu cukup gizinya kalau isinya kurang lengkap. Karena porsinya masih kecil, setiap suapan perlu “padat gizi”.
MPASI yang adekuat sebaiknya berisi:
Karbohidrat, seperti nasi, kentang, atau umbi.
Protein hewani, seperti hati ayam, daging, ikan, atau telur. Protein hewani jadi prioritas karena kaya zat besi, yang cadangannya di tubuh bayi mulai menipis di usia 6 bulan.
Lemak tambahan, misalnya dari minyak, santan, atau mentega. Lemak membantu memenuhi kebutuhan energi tanpa harus menambah porsi terlalu banyak.
Sayur dan buah.
Inilah alasan banyak ahli sekarang menyarankan MPASI menu lengkap sejak awal, bukan hanya buah atau sayur saja.
Kenali Tanda Si Kecil Sudah Kenyang
Ini bagian yang sering terlewat: jangan paksa si Kecil menghabiskan makanannya, walaupun porsinya belum sampai patokan.
Perhatikan tanda-tanda ia sudah kenyang atau tidak mau makan lagi, seperti:
Menggelengkan kepala atau memalingkan wajah
Menutup mulut rapat-rapat
Memuntahkan atau melepeh makanan
Menangis saat disuapi
Kalau tanda ini muncul, tawarkan kembali makanannya secara netral, tanpa membujuk atau memaksa. Paksaan justru bisa mengganggu konsentrasi makan dan membuat si Kecil tidak suka waktu makan. Cara memberi makan yang mengikuti sinyal lapar dan kenyang anak ini disebut responsive feeding.
Kalau Porsinya Belum Habis, Harus Bagaimana?
Tenang dulu, Bunda. Ada beberapa cara supaya kebutuhan si Kecil tetap terpenuhi tanpa harus memaksa:
Tambah frekuensi, kurangi porsi. Daripada memaksa satu porsi besar, berikan porsi lebih kecil tapi lebih sering.
Berikan camilan sehat di antara jadwal makan utama.
Batasi waktu makan maksimal 30 menit. Kalau lewat dari itu, sudahi dan tawarkan lagi di jadwal berikutnya.
Jauhkan distraksi seperti mainan, televisi, dan gadget saat makan.
Hindari memberi susu formula berlebihan saat anak tidak mau makan, karena bisa membuatnya selalu kenyang dan makin sulit mengenal pola makan yang benar.
Kalau penolakan makan terjadi berhari-hari, bisa jadi si Kecil sedang GTM. Penanganannya ada langkah-langkahnya sendiri.
Kesalahan Porsi yang Sering Terjadi di Awal MPASI
Dari banyak cerita Bunda, ini beberapa kesalahan yang paling sering terjadi:
Langsung memberi porsi besar di hari pertama karena takut anak kurang makan.
Membandingkan porsi dengan anak lain. Setiap anak punya kebutuhan dan kesiapan yang berbeda.
Hanya fokus pada jumlah sendok, padahal isi menunya kurang protein hewani dan lemak.
Menaikkan porsi tanpa menaikkan tekstur sesuai usia, padahal keterlambatan naik tekstur bisa berpengaruh pada kemampuan oral motor anak.
Memaksa makanan harus habis. Ini yang paling sering jadi awal drama makan.
Ingin Belajar MPASI dari Awal Tanpa Bingung?
Kalau setelah membaca ini Bunda masih merasa ragu, wajar sekali. Porsi hanyalah satu bagian dari MPASI. Masih ada jadwal, tekstur, cara menyimpan, sampai cara menghadapi si Kecil yang tiba-tiba menolak makan.
Papatalks merangkum semuanya dalam MPASI Basic, kelas video singkat yang membahas 7 hal dasar sebelum dan selama MPASI: waktu yang tepat memulai MPASI, cara memantau pertumbuhan, menyimpan MPASI, porsi makan, naik tekstur, mengatasi GTM, dan feeding rules. Materinya disusun berdasarkan panduan WHO dan IDAI, dan bisa ditonton ulang kapan saja, termasuk saat si Kecil sedang tidur.
Berapa sendok porsi MPASI 6 bulan di hari pertama?
Mulai dari 2-3 sendok makan setiap kali makan, dengan tekstur puree yang disaring. Setelah itu porsinya dinaikkan perlahan sesuai kemauan si Kecil.
Berapa ml porsi MPASI 6 bulan?
Porsinya dinaikkan bertahap sampai setengah mangkok ukuran 250 ml, atau sekitar 125 ml setiap kali makan.
Berapa kali sehari bayi 6 bulan makan MPASI?
2-3 kali sehari. ASI tetap diberikan di antara jam makan, karena di usia ini sekitar 70% kebutuhan energinya masih dari ASI.
Bayi 6 bulan makannya sedikit, apakah normal?
Normal, Bunda. Energi yang dibutuhkan dari MPASI di usia 6-8 bulan baru sekitar 200 kkal per hari, dan si Kecil masih belajar makan. Pastikan saja isi menunya lengkap dan jadwal makannya teratur, lalu pantau berat badannya secara rutin.